
TokoOke – Kalau kamu main ke Bali belakangan ini, suasananya mungkin terasa makin ramai. Macet di mana-mana, pusat perbelanjaan penuh, dan pantai-pantai ikonik tak pernah sepi. Tapi ada sebuah paradoks yang bikin miris: di tengah keramaian itu, okupansi hotel-hotel resmi di Bali justru merosot tajam. Kok bisa?
Ternyata, Bali sedang menghadapi tantangan besar yang kalau boleh jujur, rasanya seperti sedang “terjajah” di rumah sendiri. Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di balik layar indahnya Pulau Dewata.
Banyak yang heran kenapa hotel sepi padahal turis banyak. Jawabannya adalah menjamurnya villa dan kos-kosan ilegal. Banyak properti yang berdiri tanpa izin lengkap (PBG/SLF) dan, yang paling parah, tidak membayar pajak hotel dan restoran (PBJT).
Banyak warga negara asing (WNA) yang menghalalkan segala cara untuk memiliki aset di sini. Mulai dari modus menikahi warga lokal hingga meminjam nama (nominee) untuk membangun properti. Dampaknya? Persaingan jadi tidak sehat. Hotel resmi yang taat pajak kalah saing dengan villa-villa “gelap” yang harganya jauh lebih murah karena tidak punya beban biaya legalitas.
Masalah bukan cuma di sektor properti. Lapangan pekerjaan warga lokal pun perlahan mulai tergerus. Fenomena WNA yang masuk pakai visa turis tapi malah “nyambi” jadi fotografer, tour guide, buka restoran, sampai jadi instruktur yoga makin marak.
Lucunya lagi, mereka menyasar pasar sesama rekan senegaranya. Mereka merasa lebih nyaman dilayani oleh teman sendiri, sehingga perputaran uangnya hanya terjadi di lingkaran mereka saja. Bahkan, ada yang sampai berani menjual e-book panduan cara tinggal dan bekerja secara ilegal di Bali. Ini jelas merugikan masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pariwisata secara resmi.

Secara sosial, kita juga sedang diuji. Sering kita lihat di media sosial berita tentang turis yang mabuk, bikin onar, hingga melanggar aturan lalu lintas dengan santainya. Lebih parah lagi, ada yang berani bermesraan melampaui batas di tempat umum hingga tindakan asusila di tempat suci.
Sikap superioritas ini muncul karena mereka merasa “membeli” Bali dengan uang mereka, sehingga merasa tidak perlu menghargai adat dan norma lokal yang sudah dijaga ribuan tahun.
Kenapa kita tidak bisa tertib seperti Dubai? Padahal, sekitar 85% penduduk Dubai adalah pendatang asing. Kuncinya cuma satu: Regulasi yang ditegakkan tanpa pandang bulu.
Di Dubai, aturan bukan cuma pajangan. Ada denda yang sangat berat bagi pelanggarnya. Mereka punya sistem evaluasi yang ketat dan hukuman yang benar-benar dijalankan. Semua orang—baik lokal maupun asing—paham betul kalau melanggar, risikonya fatal. Bali butuh ketegasan serupa agar turis yang datang adalah mereka yang berkualitas dan menghormati hukum.
Untuk menyelamatkan Bali dari ancaman “kehancuran sistematis”, pemerintah dan stakeholder terkait harus segera mengambil langkah masif dan transparan:
Bali tidak boleh hanya menjadi “ladang uang” bagi kaum kapitalis yang tidak peduli pada keberlanjutan budaya dan ekonomi lokal. Kita butuh pariwisata yang sehat, di mana aturan dihargai dan warga lokal menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.
Pariwisata berkelanjutan bukan soal seberapa banyak jumlah orang yang datang, tapi seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat dan seberapa terjaganya tatanan sosial yang ada. Jangan sampai Bali kehilangan jiwanya hanya demi angka-angka statistik.
No products in the cart
Return to shop