
Dunia bisnis kuliner kaki lima di Indonesia emang nggak ada matinya, tidak hanya di kuliner saja di semua sektor bidang bisnis maupun belanja online juga banyak persaingan dan strategi rumus yang harus dikembangkan dan perlu di riset. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran pas lagi jajan: “Lebih kaya mana ya, abang gorengan atau abang bakso?” Pertanyaan ini sering banget jadi bahan perdebatan. Ada yang bilang bakso lebih elit, ada yang bilang gorengan lebih laku.
Biar nggak cuma jadi mitos, kita bakal bedah habis-habisan lewat kisah dua sahabat, Amat dan Udin. Mereka berdua sama-sama merintis usaha dari nol, tapi punya “jalan ninja” yang beda dalam mencari cuan. Yuk, kita intip rahasia dapur mereka!
Amat memilih jualan gorengan di pinggir jalan yang ramai orang lewat. Modalnya gerobak sederhana dan wajan raksasa. Strategi Amat itu simpel: jual murah, yang penting habis banyak.
Mari kita hitung-hitungan secara teknis (HPP):
Udin sempat meledek Amat, “Mat, capek bener lu goreng seharian cuma dapet gope (Rp 500) per biji. Kapan kayanya?” Amat cuma senyum sambil terus masukin bakwan ke plastik pelanggan.
Beda dengan Amat, Udin jualan bakso semangkok Rp 10.000. Udin merasa bisnisnya lebih berkelas karena nilai rupiah per transaksinya gede.
Hitungan bisnis Udin:
Udin merasa menang. Sekali jual, dia langsung dapet untung Rp 3.000. Dia butuh tenaga lebih sedikit untuk melayani satu orang dibanding Amat yang harus membungkus banyak gorengan untuk dapet untung yang sama. Tapi, apakah bisnis cuma soal gede-gedean angka di nota?
Di sinilah letak perbedaan fundamentalnya. Gorengan itu adalah barang “Impulse Buying”.
Pernah nggak kamu lewat depan tukang gorengan, awalnya nggak pengen, tapi pas kecium bau bakwan goreng, tiba-tiba tangan udah rogoh kocek?
Pembeli Amat biasanya:
Sementara Bakso Udin adalah “Destination Food”. Orang beli bakso karena lapar atau sengaja pengen makan berat. Hambatan psikologisnya lebih tinggi:
Dalam ilmu SEO Business atau manajemen keuangan, kita mengenal istilah Inventory Turnover. Amat menang telak di sini.

Bayangkan dalam 1 jam:
Meskipun margin per porsi Udin lebih besar (Rp 3.000 vs Rp 500), tapi karena barang Amat lebih cepat “muter” dan dibeli dalam jumlah banyak sekaligus, pendapatan bersih Amat per jam justru jauh lebih tinggi.
Mari kita lihat dari sisi efisiensi modal (ROI):
Secara teknis bisnis, Amat sebenarnya menjalankan bisnis yang lebih sehat dan tahan banting. Jika harga minyak naik sedikit, Amat masih punya bantalan margin 100%. Tapi kalau harga daging naik, Udin bakal pusing tujuh keliling karena marginnya sudah mepet.
| Fitur | Jualan Gorengan (Amat) | Jualan Bakso (Udin) |
| Kecepatan Cuan | Sangat Cepat (High Turnover) | Sedang |
| Hambatan Beli | Rendah (Murah) | Menengah (Perlu Mikir) |
| Loyalitas | Rendah (Bisa beli di mana saja) | Tinggi (Pelanggan setia rasa) |
| Skalabilitas | Sulit naik harga | Lebih mudah naik harga (Branding) |
| Risiko Bahan | Rendah (Bahan awet/tepung) | Tinggi (Daging harus segar) |
Jawabannya tergantung pada gaya manajemen kamu.
Kisah Amat dan Udin mengajarkan kita bahwa untung besar bukan cuma soal angka di label harga. Kecepatan uang berputar (velocity of money) dan rendahnya hambatan psikologis pembeli adalah kunci sukses di bisnis UMKM kuliner. Untung Rp 500 tapi laku 1.000 biji jauh lebih gurih daripada untung Rp 3.000 tapi cuma laku 50 porsi. Sekarang, kamu mau jadi tim Amat yang main cepat atau tim Udin yang main mantap?
Kalau kita konversikan dalam bentuk usaha lain seperti Bisnis Agen Tiket, bisa jadi di kedua pelaku usaha tersebut, kenapa?
Agen Tiket Travel lebih cenderung masuk ke Kategori Penjual Bakso (Udin), tetapi dengan potensi strategi di Gorengan (Amat). Mari kita bedah analisanya:
Sama seperti Udin yang menjual bakso seharga Rp 10.000 (lebih mahal dari gorengan), tiket travel memiliki karakteristik berikut:
High Ticket Item (Harga Lebih Tinggi): Harga tiket (pesawat, kereta, atau bus) jauh lebih mahal daripada jajanan pasar. Orang tidak membeli tiket travel secara impulsif di pinggir jalan seperti membeli gorengan.
Hambatan Psikologis Tinggi: Pembeli akan berpikir panjang (Destination Purchase). Mereka akan membandingkan harga, jadwal, dan ketersediaan uang sebelum membeli.
Margin per Transaksi: Secara nominal rupiah, untung dari satu tiket (misal komisi Rp 20.000 – Rp 50.000) terasa lebih besar dibandingkan menjual satu buah gorengan.
Faktor Kepercayaan (Trust): Sama seperti bakso yang harus enak dan bersih, agen travel harus terpercaya. Sekali pelanggan kecewa, mereka tidak akan kembali.
Agen travel bisa menggunakan strategi Amat jika ia bermain di ranah High Volume & Low Friction. Contohnya:
Tiket Komuter/Rutin: Jika agen tersebut melayani tiket travel rute pendek (misal: Jakarta-Bandung) yang penumpangnya adalah pekerja rutin. Mereka membeli “tanpa mikir” karena sudah menjadi kebutuhan harian/mingguan.
Kecepatan Mutar Uang: Jika agen tersebut hanya mengambil komisi tipis (misal hanya Rp 5.000 per tiket) tapi volumenya ribuan tiket per hari melalui aplikasi otomatis. Di sini, yang dikejar bukan margin tebal, tapi seberapa cepat kuota tiket habis terjual.
| Fitur | Gorengan (Amat) | Bakso (Udin) | Agen Tiket Travel |
| Sifat Pembelian | Impulsif (Tanpa mikir) | Terencana (Lapar) | Sangat Terencana (Kebutuhan) |
| Margin per Unit | Kecil (Rp 500) | Besar (Rp 3.000) | Besar (Komisi per Tiket) |
| Volume Penjualan | Sangat Tinggi | Menengah | Menengah ke Rendah |
| Persentase Keuntungan | Sangat Tinggi (100%) | Sedang (42%) | Kecil (Komisi biasanya < 10%) |
Menurut Kamu usaha apa yang masuk kategori si penjual Bakso atau penjual Gorengan? Sharing cerita di kolom komentar menurut versi Kamu
No products in the cart
Return to shop