
TokoOke – Pernah nggak sih kamu merasa heran? Ada seorang Sales Leader yang kalau dilihat dari pagi sampai sore kerjanya cuma di depan laptop, berkutat dengan angka, tabel, dan slide presentasi. Padahal, anak buahnya di luar sana lagi berdarah-darah dikejar target, butuh bantuan buat closing klien kakap.
Aneh banget, kan? Tapi nyatanya, fenomena ini nyata terjadi di banyak perusahaan. Secara logika, tugas pemimpin itu memastikan timnya berhasil. Tapi kenapa laporannya yang malah jadi “dewa”?
Yuk, kita bedah kenapa hal ini bisa terjadi dan apa rahasia gelap di baliknya.
Alasan pertama memang kadang bukan salah si leader sepenuhnya. Ada perusahaan yang budayanya sangat administratif. Pagi harus ada laporan, siang update data, malam kirim rangkuman.
Ketika manajemen puncak lebih menghargai data di atas kertas daripada proses di lapangan, akhirnya leader terjebak jadi admin tingkat tinggi. Mereka nggak sempat bimbing tim karena waktunya habis cuma buat urusan “setoran” ke atasan. Di sini, sistemnya yang perlu dibenahi.
Pernah ketemu tipe orang yang baru sibuk kalau sudah mepet deadline? Nah, banyak leader yang manajemen waktunya parah.
Seharusnya laporan bisa dicicil sedikit demi sedikit setiap hari. Tapi karena ditunda-tunda, pas sudah waktunya meeting besar, mereka baru panik. Akhirnya, waktu yang seharusnya dipakai untuk coaching atau mendampingi tim presentasi ke klien, malah dipakai buat kejar tayang bikin laporan. Tim jadi tumbal karena pemimpinnya nggak bisa mengatur prioritas.
Nah, poin ketiga ini biasanya yang paling sering terjadi tapi paling jarang diakui. Jujur ya, jangan-jangan si leader sendiri sebenarnya nggak tahu cara closing?
Banyak orang naik jabatan jadi leader karena senioritas atau keberuntungan, tapi skill lapangannya sudah karatan. Mereka takut kalau ikut turun ke lapangan, mereka nggak bisa kasih contoh yang baik. Mereka khawatir kalau klien nanya yang susah, mereka nggak bisa jawab.
Daripada rahasia “nggak bisa closing”-nya terbongkar di depan anak buah, mendingan mereka pura-pura sibuk bikin laporan. Laporan jadi tempat persembunyian paling aman agar terlihat produktif, padahal aslinya cuma menghindari kenyataan.
Coba pakai akal sehat. Kalau kamu seorang atasan, mana yang lebih kamu pilih:
Atasan yang waras pasti bakal tetap memilih Opsi A. Laporan sejelek apapun bakal dimaafkan kalau omzet meledak. Tapi kalau penjualannya hancur, laporan seindah apapun pasti tetap kena semprot!
Sebenarnya, ketakutan terbesar seorang leader adalah kehilangan wibawa. Mereka takut kalau di lapangan ternyata mereka gagal closing, anak buah bakal bilang: “Ah, si Bos aja cuma bisa galak di kantor, pas di depan klien juga mlempem.”
Daripada menanggung risiko itu, mereka memilih tetap di kantor, jadi “jagoan kandang” yang cuma berani marahin anak buah lewat grup WhatsApp sambil terus memelototi laporan.
Menjadi pemimpin itu bukan soal seberapa jago kamu mengolah data di Excel, tapi seberapa mampu kamu mencetak “pemenang” baru di tim kamu. Laporan itu penting untuk dokumentasi, tapi closing adalah nyawa perusahaan.
Kalau kamu seorang leader, berhentilah bersembunyi di balik meja. Bantu anak buahmu. Kalau mereka sukses, laporanmu bakal terlihat bagus dengan sendirinya tanpa perlu banyak polesan.
penulis : Roy Zaki (Sales atau Bisnis)
Setuju? Atau kamu punya pengalaman punya bos yang cuma hobi bikin laporan?
No products in the cart
Return to shop